browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Pembangunan Hijau Berkelanjutan sebagai Langkah Menuju Kemajuan Global

Posted by on May 26, 2013

Peradaban modern sekarang ini telah banyak mendorong manusia untuk begitu serakah terhadap lingkungan. Manusia di era modern ini memahami bahwa sumber daya alam adalah materi yang dapat dan harus dieksploitasi dalam rangka pemenuhan kebutuhan materi dengan sedikit mungkin mengorbankan biaya dan mendapatkan hasil yang semaksimal mungkin tanpa perlu memperdulikan dampak jangka panjang bagi kehidupan.

Dalam mengantisipasi permasalahan tersebut, maka pemerintah mengadakan program pembangunan hijau berkelanjutan yang berprinsip memenuhi kebutuhan generasi masa depan dengan konsep saving land, saving material, dan saving energy. Dalam mengefisiensikan dan memaksimalkan pembangunan hijau berkelanjutan maka perlu dilakukan pengelolaan sumber daya air, energi, sistem tranportasi, dan menjamin adanya fasilitas kesehatan yang baik, dan mampu mensinergiskan lingkungan alami dan buatan, yang berdasarkan pada perencanaan dan perangcangan kota yang berpihak pada prinsip-prinsip pembangunan hijau berkelanjutan (lingkungan, sosial, ekonomi).

Salah satu faktor yang harus dihadapi untuk mencapai pembangunan hijau berkelanjutan adalah bagaimana memperbaiki kehancuran lingkungan tanpa mengorbakan kebutuhan ekonomi dan keadilan sosial.Dalam pembangunan hijau salah satu atribut yang menjadifokus adalah peningkatan kualitas dan kuantitas ruang terbuka hijau (RTH) sesuai dengan karakteristik lingkungan sekitar.

Pembangunan hijau berkelanjutan berkaitan erat dengan pertumbuhan ekonomi dan bagaimana cara memajukan pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang, tanpa menghabiskan modal alam. Pada negara berkembang, konsep pembangunan hijau berkelanjutan nampaknya belum bisa diimplementasikan secara efektif karena kebanyakan masih berfokus pada kemajuan aspek ekonomi semata. Wilayah pesisir merupakan salah satu wilayah yang sangat potensial terhadap pembangunan hijau berkelanjutan. Selain karena pesona pantainya, ekosistem yang  terjaga dengan baik menjadi daya tarik tersendiri bagi wilayah pesisir. Triple-C atau Triple Construction, merupakan konsep paduan dari tiga macam konstruksi bangunan yang dirancang dalam suatu perumahan yang modern, rural/classical, serta memiliki greenhouse sebagai akses di bidang pertanian (agriculture).

 

Sebagai contoh inilah salah satu konsep pembangunan hijau yang telah dibuat oleh teman kita rizky, helty, dan fauzan:

Konstruksi 1 menerapkan konsep modern design dengan menggunakan banyak kaca sebagai pengganti dinding bata. Penggunaan kaca pada konstruksi 1 juga berperan sebagai penerang alami di sianghari, sehingga tidak perlu lagi menyalakan lampu karena sinar matahari bisa masuk kedalam rumah. Pada konstruksi 1 (modern house), bentuk atap dibuat seperticorong. Hal ini dilakukan untuk mengkonservasi air hujan. Sistem saluran air terpusat ini dapat mengurangi penggunaan jumlah talang air pada atap. Air hujan yang turun akan mengalir kepusat atap dan masuk kedalam saluran air, saluran air ini menghubungkan atap dengan  reservoir yang terdapat di bawah panggung rumah. Konservasi air dilakukan untuk mengurangi biaya penggunaan air bersih dari PDAM.

Kayu yang digunakan sebagai kolom adalah kayuulin (Eusideroxylonzwageri) yang dikenal dengan nama kayubesi, terkuat dari habitat aslinya. Tahan terhadap serangan serangga rayap dan serangan serangga penggerek karena mempunyai zat ekstraktif eusiderin turunan phenolic yang beracun, perubahan suhu, kelembaban, dan umum digunakansebagai tiang pancang pada tanah di bawah muka air atau tanah yang terkena pengaruh air asin. Material atap greenhouse menggunakan bahan polyethylene denganUV stabilizer yang dapat menjadi pilihan karena memiliki umur pakai lebih lama dibandingkan bahan kaca dan polimer plastik lainnya. Lantai bangunan menggunakan hasil laminasi dari limbah kayu damar. Kacariben digunakan karena karakteristiknya yang mampu mendispersikan cahaya, sehingga cahaya dapat tersebar dengan merata keseluruh ruangan.

Konstruksi 2, rural / classical desain menggunakan 90% bahan kayu baik dinding, atap, lantai, dan kolomnya. Penggunaan material kayu inidimaksudkan untuk memberikan kesan klasik bagi pemilik rumah. Model bangunan ini sangat sederhana, hanya berbentuk kubus dengan kamar tidur dan kamar mandi didalamnya, dengan material berbahandasar kayu akan menimbulkan kesan estetika yang lebih baik.

Konstruksi 3, agricultural design, merupakan model rumah kaca dengan konsep umbrella effectyang diterapkan untuk melindungi tanaman dari hujan, angin, hama, intensitas radiasi matahari yang berlebihan, mengurangi transpirasi tanaman dan memudah kanperawatan. Bentuk bangunan odified standar peak. Ini merupakan model optimum bagi pemasangan rumah kaca di Indonesia, dengan sistem ventilasi yang baik dan sirkulasi angin yang baik. (RAH)

Comments are closed.