browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

[Ensiklopedisil] Eceng Gondok

Posted by on March 27, 2017

Hai hai kawan !! manfaat-eceng-gondok
balik lagi nih dengan ensiklopedisil. kawan masih ingat dengan post ensiklopedisil sebelumnya? itu lho yang tentang bata ringan atau istilah kerennya hebel. Kehadiran bata ringan ini memang sangat membantu kegiatan pembangunan ya. Perkembangan teknologi konstruksi yang pesat juga harus diiringi dengan kaedah lingkungan juga lho kawan. Jadi jangan sampai malah menyengsarakan lingkungan. Ngomong-ngomong soal lingkungan, kawan tau gak sih kalo ternyata alam mempunyai indikator pencemaran sendiri lho.
penasaran? langsung cekidot gaess..

Alam memang diciptakan dengan sempurna ya kawan. Berbagai macam sistem hadir di dalamnya dan membuat sinergi yang mengagumkan. Tapi apa jadinya apabila sistem ini terganggu karena satu dan lain hal yang sebenarnya bisa dihindari sebut saja pencemaran. Pencemaran sungai di Indonesia bukan hal yang baru lho kawan. Contohnya adalah apa yang terjadi dengan sungai citarum di pertengahan tahun 2015 yang lalu. Sungguh miris memang padahal sungai merupakan sumber daya yang vital bagi hidup manusia. Tapi ternyata sungai juga punya sistem perbaikan sendiri lho layaknya manusia ketika sakit, yaitu dengan adanya tanaman Eceng Gondok.
Dalam bahasa latin eceng gondok ini disebut dengan “Eichhornia Crassipes” dan di Indonesia sendiri pada masing-masing daerah juga mempunyai sebutan bermacam-macam, seperti halnya Ringgak (Lampung), Ilung-ilung (Dayak), Kelipuk (Palembang), Tumpe (Manado), dan masih banyak lagi. Tanaman ini pertama kali ditemukan pada tahun 1824 oleh seorang ahli botani dari Jerman yang bernama Carl Friedrich Philipp von Martius. Satu hal yang membuat tanaman ini menarik adalah kehadirannya di perairan sungai ketika terjadi pencemaran berupa logam berat seperti merkuri, seng, dan lainnya. Hal ini terjadi karena eceng gondok mampu menyerap logam logam berat tersebut. Tanaman ini juga dapat tumbuh dan berkembang biak dengan cepat sehingga pada suatu kondisi pencemaran yang berat, tanaman ini bahkan mampu menutupi seluruh permukaan air pada suatu areal tertentu. Jadi eceng gondok ini selain menjadi indikator pencemaran juga bisa menjadi penjernih air.

Tapi tau gak kawan kalo tanaman ini juga bisa menjadi bencana lho. Satu hal yang harus diperjelas di sini adalah kehadiran eceng gondok bukan berarti menjadi sebuah isyarat bahwa pencemaran tuh diizinkan kawan. Apabila sungai tercemar berat dan eceng gondok berkembang dengan pesat maka yang terjadi bukannya memperbaiki ekosistem, melainkan kehancuran bagi ekosistem. Seperti halnya tanaman yang lain, tanaman ini juga memerlukan respirasi untuk kelangsungan hidupnya. Kegiatan respirasi ini dapat mengurangi kadar oksigen di dalam air secara drastis sehingga berbahaya bagi ikan, belum lagi tersendatnya asupan cahaya matahari ke dalam air. Makin komplit aja masalahnya ya ckck.

Sebagai salah satu komponen ekosistem di bumi, seharusnya kita bisa menempatkan diri dengan baik ya kawan agar tidak saling merugikan. Masalah akan timbul apabila ada pelanggaran terhadap suatu sistem, apa pun itu sistemnya.

See you next time kawan !!

Comments are closed.